Jargon politik yang satu ini lahir pada paruh pertama dasawarsa 1970-an.

Tidak puas dengan kebijakan Orde Baru yang dianggap membatasi ruang gerak partai politik, barisan aktivis kala itu, seperti Arief Budiman, menggulirkan gagasan golongan putih alias Golput.

Setelah Orde Baru tumbang dan parpol jauh lebih leluasa berkembang, Golput tidak mau menghilang begitu saja dari kamus politik di Indonesia.

Dan, sementara pemilu umum 2009 semakin dekat, keberadaan Golput ini kembali menarik perhatian media.

Dengan beragam alasan, beberapa pihak memprihatinkan pengaruh seruan untuk memboikot pemilihan, dan meminta para ulama agar mengeluarkan fatwa. Namun, bagi aktivis Faizal Assegaff, golput adalah pilihan politik.

Sikap politik Faizal Assegaff sulit diterima oleh pihak-pihak yang menganggap menggunakan hak pilih adalah hak dan kewajiban warga negara.

Politisi dari sejumlah parpol, yang basis massa utamanya adalah warga muslim, meminta agar membahas isu golput dan mengeluarkan fatwa.

Caleg PKS Achmad Mabruri Akbar Mei mengatakan, usul tokoh PKS untuk mengeluarkan fatwa tentang Golput dimaksudkan untuk meng-counter (mengimbangi) ajakan untuk tidak ikut memilih yang dikeluarkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Kecewa

Keprihatinan para tokoh parpol, seperti politisi Achmad Mabruri dari PKS ini, bukan tanpa dasar.

Data dari beberapa sumber mengindikaskan jumlah orang yang bisa dikategorikan Golput dalam banyak pemilihan kepala daerah, pilkada, di Pulau Jawa bisa mencapai di atas 40 persen.

Menurut pengamat politik Muhammad Asfar, jumlah warga Golput cenderung meningkat, karena calon pemilih kecewa dengan janji-janji yang tidak dipenuhi dalam pemilihan sebelumnya.

Pengamat politik Muhammad Asfar, yang banyak meneliti perilaku pemilih, menilai fatwa soal Golput tidak perlu dikeluarkan, karena itu akan “mempolitisasi agama”.

Bagaimanapun, permintaan fatwa tentang Golput kini telah berada meja para ulama MUI, yang akan membahasnya pada penghujung Januari ini.

Ketua Komisi MUI Kiai Haji Makruf Amin menolak jika dikatakan lembaganya mempolitisasi agama. Alasannya, MUI tidak mengarahkan warga untuk memilih parpol tertentu.

Kini Israel dan Hamas terlibat dalam aksi yang disebut menteri pertahanan Israel Ehud Barak “perang hingga akhir” mari kita lihat pilihan yang mereka miliki. Pertama-tama, apakah memang ini merupakan perang hingga akhir? Bisa jadi demikian, dan bisa jadi akan lebih buruk situasinya karena jika perang sudah dimulai, tidak mudah mengontrolnya. Tetapi terkaan yang paling mungkin adalah mereka akan terus bertempur hingga ada intervensi diplomatik yang bisa diterima kedua kubu, atau setidaknya berada di posisi yang tidak memungkinkan mereka menolak. Para jenderal Israel selalu mempertimbangkan dua jenis waktu dalam melaksanakan operasi militer.

Yang pertama memperlihatkan bahwa mereka harus mencapai tujuan militer yang sudah ditentukan. Israel memiliki lebih banyak pilihan dibanding Hamas Yang kedua memperlihatkan banyaknya waktu yang tersisa sebelum tekanan internasional agar gencatan senjata ditetapkan menjadi tidak mungkin untuk ditolak. Jam diplomatik ini berjalan seiring dengan jumlah kematian warga sipil, dan dengan jumlah warga Palestina yang tewas demikian tinggi, jam itu berdetak semakin kencang.

Hamas merupakan organisasi yang kurang konvensional. Para pemimpinnya sadar reputasi mereka terbentuk oleh ideologi perlawanan. Semakin menderita mereka, semakin keras mereka berjuang, semakin tinggi dukungan terhadap mereka di Timur Tengah. Di wilayah yang penuh dengan kemarahan terhadap Israel dan sekutu baratnya, Hamas tidak akan menerima usul apapun yang akan membatasi aksi yang menurut mereka merupakan hak untuk berjuang. Kelompok ini ingin mengirim pesan bahwa mereka tidak terintimidasi dan akan terus berjuang demi seluruh pihak di dunia yang marah dengan aksi Israel, dan juga kerumitan sekutu baratnya. Akan tetapi kepemimpinan Hamas sangat cerdik. Kelompok ini mungkin akan menerima kesepakatan yang membuatnya semakin diakui di panggung internasional dan memberi napas baru pada pasukannya. Namun untuk saat ini Israel masih menjalankan rencananya, mencoba untuk menguasai keadaan. Dan Israel mendapat perlindungan dari pemerintahan Bush, yang masih memanfaatkan tembakan diplomatis di bulan terakhir kekuasaannya dengan mengatakan gencatan senjata memang diinginkan, tetapi hanya jika Hamas menghentikan aksi penembakan. Disaat perang masih berlangsung, Israel memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan Hamas. Perang tak seimbang Israel memiliki militer yang kuat dan modern. Hal ini tidak berarti kemenangan standar secara militer sudah pasti, karena jika sudah pasti Irak sudah menggempur Gaza sejak dulu. Israel memiliki militer modern Perang di Gaza, seperti juga banyak konflik lain di dunia saat ini, merupakan pertempuran antara si kuat dan si lemah. Para pakar strategi menyebutnya perang asimetris atau tak seimbang. Dalam perang seperti ini, kubu yang lemah sadar mereka tidak punya harapan untuk mengalahkan si kuat dalam perang frontal. Jadi, mereka berusaha memperkuat kemampuan yang dimiliki dan mendayagunakannya untuk menyerang titik yang dianggap sebagai titik lemah. Contoh yang paling ekstrim adalah pukulan luar biasa yang dihasilkan oleh sekelompok kecil pembajak yang menabrakkan pesawat komersial ke gedung World Trade Center 11 September 2001.

Hamas sangat ingin memukul Israel sekuat mungkin dan telah mengancam untuk mengerahkan pembom bunuh diri dan juga roket. Tetapi organisasi ini ingin juga membuat pukulan dari Israel balik memukul. Sejak tekanan internasional terhadap israel diawali dengan jumlah korban yang tewas dari kalangan warga Palestina, satu caranya adalah berkonsentrasi dalam perang media. Ini sangat berarti dalam perang tidak seimbang. Menang dalam perang media di dunia yang tidak pernah berhenti dari komunikasi langsung, merupakan bagian besar dalam memenangkan perang.

Ketika jenderal Wesley Clark dari Amerika menjadi komandan pasukan Nato di Kosovo tahun 1999, dia selalu memasang stasiun televisi berita di kantornya selama 24 jam. Israel untuk saat ini melarang wartawan internasional masuk ke Gaza. Garis yang konsisten Negara itu jug amenyatakan sebagian besar wilayah Israel di perbatasan Gaza sebagai zona militer tertutup yang memberi kekuasaan pada tentara untuk mengusir para wartawan. Jumlah warga sipil yang tewas banyak, Israel mendapat tekanan Juru bicara Israel di seluruh dunia ters mengemukakan pernyataan yang konsisten. Mereka berulang kali, tanpa lelah, menegaskan bahwa Israel bertindak untuk membela diri, bahwa wilayah kedaulatannya dilanggar oleh serangan roket dan bahwa negara manapun yang berada dalam posisi itu akan melakukan hal yang sama. Selain pernyataan menteri pertahanan mengenai perang hingga akhir, tampaknya ada upaya untuk tidak mempergunakan kata-kata yang bombastis. Hal berbeda terjadi dalam perang di Lebanon tahun 2006, membebani Israel dengan visi kemenangan yang sangat tidak mungkin tercapai. Namun Israel juga ingin mengirim pesan lain. Negara itu menyerang simbol-simbol kekuasan dan prestise Hamas, seperti Universitas Islam di Gaza. Israel yakin bisa merusak posisi Hamas sehingga tidak akan bisa lagi melontarkan roket melintasi perbatasan. Negara ini memanda satu cara untuk memisahkan kepemimpinan Hamas dan pendukung utamanya dari warga Palestina di Gaza adalah dengan memperlihatkan betapa besar kerusakan yang diderita warga akibat tindakan Hamas. Hal itu tampaknya tidak akan terjadi. Bagi warga Palestina, apapun yang dikatakan oleh Israel soal serangan itu adalah hinaan terhadap semua pihak. Untuk Israel sendiri, ini bukan hanya menggalahkan Hamas semata. Negara itu ingin menghilangkan rasa ragu terhadap kompentensi militer Israel yang tercipta sejak dipaksa berperang hingga akhir oleh Hezsbollah Lebanon tahun 2006. Israel menyebutnya memperbaiki kekuatan militer. Artinya mereka ingin membuat calon musuh takut akan kemungkinan aksi yang bisa dilakukan oleh Israel.

Kutipan berita berikut ini kiranya dapat jadi peringatan bagi media di tanah air (khususnya media infotaimen) yang terkadang lebih banyak membangun opini sendiri. Lebih mengedepankan sensasi daripada fakta.
Robert Murat
Murat bermukim di Portugal, tak jauh dari keluarga McCann berlibur

Robert Murat mendapat £600.000 atau sekitar 9 miliar rupiah dari 11 surat kabar terbitan Inggris.

Begitulah keputusan pengadilan  dalam kasus gugatan pencemaran nama baik.

Dan usai pengadilan, Murat mengatakan keputusan itu mencerminkan pemulihan nama baiknya.

Robert Murat adalah warga Inggris yang tinggal di kawasan wisata Praia da Luz, Portugal.

Tanggal 3 Mei Tahun 2007, tak jauh dari tempat tingggalnya, seorang anak perempuan Inggris berusia 4 tahun, Madeleine McCann, yang sedang liburan bersama keluarganya hilang.

Tak ada tanda-tanda kekerasan, juga tak ada bekas-bekas kematian. Madeleine raib dari tempat tidurnya dan orang tuanya yakin dia diculik.

Kasus ini menjadi berita seru di Inggris karena saat Madeleine McCann hilang, kedua orang tuanya makan malam bersama teman-teman asal Inggris yang juga sedang berlibur ke kawasan itu.

Banyak orang yang mempertanyakan kenapa kok mereka meninggalkan 3 orang anak –Madeleine bersama abang dan kakaknya– tanpa didampingi orang dewasa di dalam apartemen.

Dan, itu hanya untuk makan malam sambil ngobrol sama teman-teman doang.

Kedua orang tua Madeleine tidak perduli dan terus berkampanye mencari Madeleine –dan sempat bertemu Paus Benekditus di Vatikan– walau sampai saat ini belum juga ditemukan.

Sibuk membantu

Ke tengah-tengah peristiwa itulah, masuk Robert Murat. Sebagai sesama orang Inggris, dia –yang sudah lama tinggal di sana– sibuk membantu ke sana ke mari.

Madeleine McCann
Madeleine McCann hilang di dekat tempat Murat bermukim

Singkatnya pasca penculikan dia hampir kelihatan di mana-mana.

Nah tiba-tiba dia diperiksa polisi, dan media sensasi Inggris langsung menyambar habis berita itu.

Ibunya diwawancara, kemudian profil dia diangkat, rumahnya difoto sana sini, dan saya ingat ada satu media yang kira-kira menulis ‘memang agak dicurigai juga kenapa dari awal dia terlalu semangat sekali membantu.’

Dalam istilah Murat di pengadilan, media-media itu sudah keterlaluan meliput penyelidikan atas dia. Apalagi kemudian dia resmi menjadi tersangka resmi sampai saat ini –bersama dengan kedua orang tua Madeleine, walaupun belum ada kelanjutan karena polisi Portugal belum menemukan bukti-bukti baru tapi juga belum mau menutup kasus ini.

Keputusan Kamis kemarin membuat Murat merasa terbebaskan dari tekanan.

Dia mengatakan lebih dari 100 laporan sensasional –berapa diantaranya bahkan berita utama– telah menghancurkannya.

Setelah mendapat ganti rugi dia mengatakan “saya lebih suka tidak melalui pengalaman seperti itu dan sampai ke tahapan ini.”

Meliput peristiwa

Kemenangan Murat ini sepertinya menjadi peringatan agar media tidak seenaknya meliput sebuah peristiwa, karena memang sensasi akan menarik minat pembaca.

Kasus hilangnya Maddy menarik perhatian media
Kasus hilangnya Maddy menarik perhatian media

Tapi tetap saja media tidak boleh seenaknya menjadikan seseorang sebagai obyek bagi berita sensasionalnya itu.

Apalagi sampai dikeroyok oleh 11 media, antara lain Daily Mail, Evening Standard, Metro, Daily Express, Sun maupun News of The World.

Tapi apakah kasus Murat ini akan membuat koran-koran kuning akan lebih hati-hati.

Mantan pemimpin redaksi Sunday Times, Andrew Neil, yakin rentetan berita-berita sensasional yang berbau pencemaran nama baik akan terus ada. Dendanya terlalu kecil, kata Andrew Neil.

“Para surat kabar tidak cukup terluka. 600 ribu Poundsterling yang dibagi-bagi antara sekelompok surat kabar yang kaya cuma seperti uang kantong saja,” katanya.

Apa yang dikatakan Andrew Neil itu sepertinya mencerminkan sikap sejumlah media kuning yang memang mengandalkan berita sensasi.

Ibaratnya kalau sekarang nyumbang 100.000 poundsterling, tapi karena berita itu pemasukan sampai 150.000 Poundsterling, ya masih untung kan.

Akhirnya memang pembaca jugalah yang menentukan, selama kita-kita masih membeli berita sensasi akan selalu ada perhitungan untung rugi seperti diatas.

Berita memilukan dari dunia pendidikan di negeri para fir’aun berikut ini kiranya dapat menjadi pelajaran berharga bagi dunia pendidikan di tanah air. Pesannya adalah hentikan hukuman fisik di sekolah.
Islam Amr Badr dipukul karena tidak mengerjakan PR
Islam Amr Badr dipukul karena tidak mengerjakan PR

Di Mesir, seorang guru diajukan ke pengadilan di kota Iskandariah setelah dituduh memukuli muridnya yang berumur 11 tahun sampai mati.

Islam Amr Badr meninggal bulan Oktober ketika sedang mengikuti pelajaran.

Di Mesir kasus ini mendapat banyak perhatian besar sebagai contoh kegagalan sistem pendidikan negeri di negara itu.

Hakim di pengadilan pidana Iskandariah mendengar kesaksian dari teman – teman Islam Amr Badr, yang menggambarkan bagaimana dia dipukul Haitham Nabil Abdul Hamid, dalam pelajaran matematika.

Mereka mengatakan dia dihukum karena tidak mengerjakan PR.

Para petugas kesehatan yang memeriksa anak itu setelah dia dibawa ke rumah sakit, juga menjadi saksi, begitu pula dengan dokter yang melakukan visum.

Akibat pukulan gurunya, dua rusuk Islam Amr Badr patah.

Perutnya juga mengalami cedera yang membuat tekanan darahnya jatuh dan akhirnya menyebabkan gagal jantung.

Pak guru Abdul Hamid yang berusia 23 tahun mengatakan dia cuma berniat menanamkan disiplin dan tidak bermaksud melukai siapa-siapa.

Craig Ewert
Craig Ewert lama mengidap penyakit motor-neuron

“Ajal saya sudah dekat. Titik. Fakta itu tak bisa dipungkiri. Saya perkirakan kematian adalah akhir, koma, tak ada jiwa yang abadi, koma, tak ada kehidupan di akhirat. Titik. Ini merupakan perjalanan yang kita semua harus lalui. Titik. Mudah-mudahan keadaan ini tidak akan membuat orang-orang yang mencintai saya tertekan.”

Pesan ini disampaikan dengan nada terbata-terbata seperti seseorang yang menyampaikan pesan agar ditulis.

Ucapan  Craig Ewert ini ditayangkan dalam sebuah dokumenter televisi berjudul ‘Right to Die?’ tentang hak seseorang untuk mengakhiri hidupnya apabila dia merasa bahwa hidupnya sudah tidak berarti lagi.

Kata-kata  Craig diilustrasi oleh adegan video masa mudanya ketika dia masih sehat dan bisa bermain dengan dua putranya.

Pada usia 59 tahun  Craig melakukan bunuh diri di sebuah klinik khusus di Swiss dengan bantuan istrinya.

Dia menderita penyakit motor-neuron, penyakit yang juga diderita fisikawan terkenal, Stephen Hawking. Pak Craig lumpuh total, nyaris tak bisa bicara, dan tidak bisa menggerakkan matanya.

Atas persetujuan

Craig Ewert mengakhiri nyawanya pada tahun 2006 dengan meminum campuran obat sedatif.

Rabu lalu kematian Pak Craig itu ditayangkan dalam sebuah dokumenter televisi atas persetujuannya.

Menurut istrinya, Mary Ewert, sang suami ingin menunjukkan peristiwa kematiannya, karena selama kematian masih disembunyikan dan bersifat privat, rasa takut orang tidak akan hilang.

…Mudah-mudahan keadaan ini tidak akan membuat orang-orang yang mencintai saya tertekan
Craig Ewert

Bukan sekali ini saja orang-orang yang sakit parah di Inggris, sekitar 100 orang warga Inggris mengakhiri hidup mereka di sebuah klinik khusus.

Tidak ada larangan dalam undang-undang Inggris untuk melakukan bunuh diri. Namun membantu orang melakukan bunuh diri merupakan pelanggaran pidana yang bisa dihukum 14 tahun penjara.

Tetapi pada kenyataannya peraturan ini tidak pernah ditegakkan. Dari 100 kasus bunuh diri yang saya sebut tadi, tak satupun sanak saudara mereka dihukum sekembali dari Swiss.

Bulan September lalu seorang bekas pemain rugby yang lumpuh karena kecelakaan dalam pertandingan, mengakhiri hidupnya di sebuah klinik di Swiss dengan diantar ayah dan ibunya.

‘Sudah jelas’

Sekembalinya di Inggris mereka tidak dikenai hukuman. Kaburnya pelaksanaan undang-undang Inggris ini membuat seorang wanita bernama Debbie Purdy mengajukan gugatan ke pengadilan tinggi agar aturan ini dipertegas.

Praktik euthanasia masih ditentang di kebanyakan negara
Praktik euthanasia masih dilarang di kebanyakan negara

Dia berkepentingan karena sebagai penderita multiple sclerosis dia bermaksud melakukan bunuh diri si Swiss, tetapi dia takut suaminya Omar Puente akan dihukum begitu dia tiba kembali ke Inggris setelah mengantar dia ke Swiss.

Pengadilan Tinggi menolak gugatan ini dengan alasan petunjuk hukum mengenai masalah ini sudah jelas.

Persoalan bunuh diri ini menimbulkan pro-kontra yang keras di Inggris. Kelompok yang anti bunuh diri seperti organisasi bernama Care not Killing, mengkhawatirkan bahwa penderita sakit parah bukannya malah dikurangi penderitaannya, tapi malah didorong untuk mengakhiri nyawa mereka.

Di tengah-tengah banyaknya berita untuk menyelamatkan orang dari kematian karena berbagai sebab, ada juga segelintir kasus dimana orang ingin mengakhiri hidupnya.

( Source : BBC )

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.