![]() |
|
| Murat bermukim di Portugal, tak jauh dari keluarga McCann berlibur |
Begitulah keputusan pengadilan dalam kasus gugatan pencemaran nama baik.
Dan usai pengadilan, Murat mengatakan keputusan itu mencerminkan pemulihan nama baiknya.
Robert Murat adalah warga Inggris yang tinggal di kawasan wisata Praia da Luz, Portugal.
Tanggal 3 Mei Tahun 2007, tak jauh dari tempat tingggalnya, seorang anak perempuan Inggris berusia 4 tahun, Madeleine McCann, yang sedang liburan bersama keluarganya hilang.
Tak ada tanda-tanda kekerasan, juga tak ada bekas-bekas kematian. Madeleine raib dari tempat tidurnya dan orang tuanya yakin dia diculik.
Kasus ini menjadi berita seru di Inggris karena saat Madeleine McCann hilang, kedua orang tuanya makan malam bersama teman-teman asal Inggris yang juga sedang berlibur ke kawasan itu.
Banyak orang yang mempertanyakan kenapa kok mereka meninggalkan 3 orang anak –Madeleine bersama abang dan kakaknya– tanpa didampingi orang dewasa di dalam apartemen.
Dan, itu hanya untuk makan malam sambil ngobrol sama teman-teman doang.
Kedua orang tua Madeleine tidak perduli dan terus berkampanye mencari Madeleine –dan sempat bertemu Paus Benekditus di Vatikan– walau sampai saat ini belum juga ditemukan.
Sibuk membantu
Ke tengah-tengah peristiwa itulah, masuk Robert Murat. Sebagai sesama orang Inggris, dia –yang sudah lama tinggal di sana– sibuk membantu ke sana ke mari.
![]() |
|
| Madeleine McCann hilang di dekat tempat Murat bermukim |
Singkatnya pasca penculikan dia hampir kelihatan di mana-mana.
Nah tiba-tiba dia diperiksa polisi, dan media sensasi Inggris langsung menyambar habis berita itu.
Ibunya diwawancara, kemudian profil dia diangkat, rumahnya difoto sana sini, dan saya ingat ada satu media yang kira-kira menulis ‘memang agak dicurigai juga kenapa dari awal dia terlalu semangat sekali membantu.’
Dalam istilah Murat di pengadilan, media-media itu sudah keterlaluan meliput penyelidikan atas dia. Apalagi kemudian dia resmi menjadi tersangka resmi sampai saat ini –bersama dengan kedua orang tua Madeleine, walaupun belum ada kelanjutan karena polisi Portugal belum menemukan bukti-bukti baru tapi juga belum mau menutup kasus ini.
Keputusan Kamis kemarin membuat Murat merasa terbebaskan dari tekanan.
Dia mengatakan lebih dari 100 laporan sensasional –berapa diantaranya bahkan berita utama– telah menghancurkannya.
Setelah mendapat ganti rugi dia mengatakan “saya lebih suka tidak melalui pengalaman seperti itu dan sampai ke tahapan ini.”
Meliput peristiwa
Kemenangan Murat ini sepertinya menjadi peringatan agar media tidak seenaknya meliput sebuah peristiwa, karena memang sensasi akan menarik minat pembaca.
![]() |
|
| Kasus hilangnya Maddy menarik perhatian media |
Tapi tetap saja media tidak boleh seenaknya menjadikan seseorang sebagai obyek bagi berita sensasionalnya itu.
Apalagi sampai dikeroyok oleh 11 media, antara lain Daily Mail, Evening Standard, Metro, Daily Express, Sun maupun News of The World.
Tapi apakah kasus Murat ini akan membuat koran-koran kuning akan lebih hati-hati.
Mantan pemimpin redaksi Sunday Times, Andrew Neil, yakin rentetan berita-berita sensasional yang berbau pencemaran nama baik akan terus ada. Dendanya terlalu kecil, kata Andrew Neil.
“Para surat kabar tidak cukup terluka. 600 ribu Poundsterling yang dibagi-bagi antara sekelompok surat kabar yang kaya cuma seperti uang kantong saja,” katanya.
Apa yang dikatakan Andrew Neil itu sepertinya mencerminkan sikap sejumlah media kuning yang memang mengandalkan berita sensasi.
Ibaratnya kalau sekarang nyumbang 100.000 poundsterling, tapi karena berita itu pemasukan sampai 150.000 Poundsterling, ya masih untung kan.
Akhirnya memang pembaca jugalah yang menentukan, selama kita-kita masih membeli berita sensasi akan selalu ada perhitungan untung rugi seperti diatas.



22 Desember 2008 at 2:50 pm
Kapan ya media norak indonesia tersandung kasus begini? Biar ada yg jd korban shock teraphy agar mereka kapok membodohi pembaca/penonton.